Pages

Subscribe:

Kamis, 07 Februari 2013

PENGERTIAN SURAT KABAR dan contoh



PENGERTIAN SURAT KABAR 

Pada awalnya surat kabar sering kali diidentikkan dengan pers, namun karena pengertian pers sudah luas, dimana media elektronik sekarang ini sudah dikategorikan dengan media juga. Untuk itu pengertian pers dalam arti sempit, pers hanya meliputi media cetak saja, salah satunya adalah surat kabar. 
Menurut Onong Uchjana Effendy, “Surat kabar adalah lembaran tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan ciri-ciri terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termasa dan aktual mengenai apa saja dan dimana saja di seluruh dunia untuk diketahui pembaca” (Effendy,1993:241). 

Arti penting surat kabar terletak pada kemampuannya untuk menyajikan berita-berita dan gagasan-gagasan tentang perkembangan masyarakat pada umumnya, yang dapat mempengaruhi kehidupan modern seperti sekarang ini. Selain itu surat kabar mampu menyampaikan sesuatu setiap saat kepada pembacanya melalui surat kabar pendidikan, informasi dan interpretasi mengenai beberapa hal, sehingga hampir sebagian besar dari masyarakat menggantungkan dirinya kepada pers untuk memperoleh informasi. 

Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak ialah dalam pengertian sempit, yakni surat kabar. Menurut Onong Uchjana Effendy ada empat ciri yang dapat dikatakan sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh surat kabar, antara lain : 

1. Publisitas (Publicity) 

Yang mengandung arti penyebaran kepada khalayak atau kepada publik. Karena diperuntukkan untuk khalayak umum, isi atau informasi dalam surat kabar ini terdiri dari berbagai kepentingan yang berkaitan dengan umum. Untuk itu, penerbitan yang meskipun sama dengan surat kabar tidak bisa disebut sebagai surat kabar jika hanya ditujukan kepada sekelompok orang atau golongan. 

2. Periodesitas (Periodicity) 

Yang berarti keteraturan dalam penerbitannya. Keteraturan ini bisa satu kali sehari bisa juga satu atau dua kali terbit dalam seminggu. Karena mempunyai keteraturan dalam penerbitannya, maka penerbit buku tidak dapat dikategorikan sebagai surat kabar meskipun isinya menyangkut kepentingan umum karena tidak disebarkan secara periodik dan berkala. 

3. Universalitas (universality) 

Yang berarti kemestaan dan keragaman. Isinya yang datang dari berbagai penjuru dunia. Untuk itu jika sebuah penerbitan berkala isinya hanya mengkhususkan diri pada suatu profesi atau aspek kehidupan, seperti majalah kedokteran, arsitektur, koperasi atau pertanian, tidak termasuk surat kabar. Memang benar bahwa berkala itu ditujukan kepada khalayak umum dan diterbitkan secara berkala, namun bila isinya hanya mengenai salah satu aspek kehidupan saja maka tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori surat kabar. 

4. Aktualitas (Actuality) 

Menurut kata asalnya aktualitas, berarti “kini” dan “keadaan sebenarnya”. Kedua-duanya erat sekali sangkut pautnya dengan berita yang disiarkan surat kabar. Berita adalah laporan mengenai peristiwa yang terjadi kini, dengan perkataan lain laporan mengenai peristiwa yang baru terjadi dan yang dilaporkan itu harus benar. Tetapi yang dimaksudkan aktualitas sebagai ciri surat kabar adalah pertama, yaitu kecepatan laporan, tanpa menyampingkan pentingnya kebenaran berita (Effendy, 1993:119-121). 

Hal-hal yang disiarkan media cetak lainnya bisa saja mengandung kebenaran, tetapi belum tentu mengenai sesuatu yang baru saja terjadi. Diantara media cetak, hanyalah surat kabar yang menyiarkan hal-hal yang baru terjadi. Pada kenyataannya, memang isi surat kabar beranekaragam, selain berita juga terdapat artikel, rubrik, cerita bersambung, cerita bergambar, dan lain-lain yang bukan merupakan laporan tercepat. Kesemuanya itu sekedar untuk menunjang upaya membangkitkan minat agar surat kabar bersangkutan dibeli orang 



SURAT KABAR DI TIMOR LESTE 



D. Dwikori Sitaresmi 

Timor Leste yang juga disebut sebagai Timor Lorosae merupakan suatu wilayah yang beberapa kali mengalami pemerintahan yang berbeda. Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka, dan dari Malaka Portugis melakukan kunjungan setiap tahun ke Timor. Sebenarnya kedatangan bangsa Portugis ke Timor dalam 
rangka mencari kayu cendana. Dari kunjungan tahunan tadi, beberapa tahun kemudian sekitar 50 orang Portugis menetap di Timor. Pada tahun 1673 hingga tahun 1693 Antonio de Hornay menguasai Larantuka, Solor dan Timor dan mengakui kekuasaan Mahkota Portugis. Baru pada tahun 1702 Antonio Coelho Guerriero 

seorang gubernur yang diangkat dari Goa berhasil membangun sebuah benteng di Lifau (Oecusse) dan menegakkan kehadiran resmi Portugis di Pulau Timor. Tahun 1769 karena takut pada serangan Belanda, Portugis memindahkan markas besarnya ke Dili. Hampir selama abad ke 18 di Timor dan Flores dipenuhi pertikaian antara Portugis dan Belanda dalam memperebutkan jalur bisnis kayu cendana. Kekuatan 

VOC dan tentara Belanda tidak sebanding dengan kekuatan Portugis. Akhirnya kesepakatan dicapai antara Portugis dan Belanda pada tahun 1859 yang menetapkan Timor Barat dan Flores diserahkan pada Belanda, kecuali wilayah Oecusse, dan Timor Lorosae menjadi daerah kekuasaan Portugis di Pulau Timor. Setelah perjanjian tersebut, maka wilayah Timor Lorosae diberi nama Timor Portugis untuk membedakan dengan wilayah Timor Barat yang dikuasai Belanda. Daerah Oecusse, dimana Portugis menancapkan kekuasaannyapertama kali dan mendirikan Gereja Katolik pertama kali di Timor tidak diserahkan kepada Belanda dengan dalih sejarah tersebut. Maka distrik Oecusse kini menjadi satu-satunya wilayah enklive, yaitu wilayah yang berada di daerah Timor Barat dan dikelilingi oleh wilayah Indonesia 

(Hill, 2000: 2-7).Selama kekuasaan Portugis, bangsa Timor Lorosae mengadakan pemberontakan meski rata-rata dalam skala kecil. Perlawanan dalam sekala besar 46tejadi pada tahun 1910 dipimpin oleh seorang liurai (raja) bernama Dom Boaventura yang bersekutu dengan sejumlah liurai di daerah Manufahi , dan baru pada tahun 

1912 pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh tentara Portugis dengan mendatangkan bantuan dua kapal laut tentara Portugis dan Mozambik, Afrika. Pemberontakan besar yang lain terjadi pada tahun 1959 di daerah Uato Lari dan Uato Carabau dekat Viqueque. Akibat pemberontakan ini 58 orang Timor Lorosae 

diasingkan ke Mozambik, Angola di Afrika dan Lisabon di ibukota Portugal (Hill, 2000: 13-63). 

Pada tahun 1939 pecah Perang Dunia II, Portugal menyatakan bersikap netral namun tidak digubris oleh Australia dan Belanda yang mengirimkan pasukannya ke Timor Lorosae untuk menghadang Jepang pada tahun 1941. Saat itu para pejabat Portugis dinonaktifkan dan tentaranya dilucuti senjatanya. Peperangan antara pihak 

sekutu dan Jepang menjadi sangat seru karena orang Timor memihak Australia dan ikut berperang melawan Jepang. Maka ketika Jepang menguasai Timor Lorosae pada tahun 1942-1945, tentara Jepang melakukan pembalasan dan membunuh kurang lebih 50.000 orang Timor Lorosae. Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945 , Portugis kembali ke Dili dan kembali menancapkan kekuasaannya di Timor Lorosae (Hill, 2000: 22-24).Kudeta Angkatan bersenjata 25 April 1974 di Portugal yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Caetano dan digantikan oleh Jenderal Antonio de Spinola membawa perubahan di Dili terutama bagi pendukung anti kolonialis. Kelompok ini mendengar bahwa polisi rahasia Portugis, DGS dibubarkan baik di Portugal maupun 

di wilayah-wilayah jajahannya. Bagi mereka ini berarti pemerintah membolehkan 

kegiatan politik terbuka. Segera partai politik didirikan. Partai politik yang pertama didirikan adalah Associação Social Demokrátika de Timor (ASDT) yang resmi mengeluarkan manifesto pertamanya pada tanggal 22 Mei 1974. Perjalanan pemikiran menyebabkan ASDT berubah menjadi Frente Revolucionária de Timor 

Leste Independênte (Front Kemerdekaan Timor Lorosae) atau FRETILIN pada tanggal 28 November 1974. Tokoh pendirinya antara lain Francisco Xavier do 47Amaral, Nicolau dos Reis Lobato, Mar’i Alkatiri, Jose Manuel Ramos Horta, Abilio Araujo dan lainnya. Pada tahun yang sama didirikan juga UDT, sebuah partai besar 

dengan para pemimpin yang berlatar belakang pendidikan tinggi seperti Mario Carrascalão dan saudaranya João Carrascalão, Francisco Lopes da Cruz dan Cesar Agustinho Mounsinho. Berbeda dengan FRETILIN yang menolak nilai-nilai Portugis, UDT menerima nilai-nilai dan idiologi kolonialisme Portugis. Tokoh-tokoh pendirinya pun bekerja dengan posisi yang sangat baik di pemerintahan Portugis. Sebuah partai lain yakni APODETI juga berdiri dengan pemikiran ingin melakukan integrasi dengan Indonesia. Segera partai FRETILIN yang memiliki ide untuk mengangkat derajad rakyat Timor dan menggunakan slogan serta lagu-lagu Timor asli mengadakan proyek kerja langsung ke desa-desa dengan memberi kursus baca tulis dan kursus pertanian. Dalam waktu singkat FRETILIN telah menjadi sangat dekat dengan rakyat dibanding kedua partai lainnya. Namun pada tanggal 10 Agustus 1975 UDT yang menuduh beberapa pimpinan FRETILIN adalah komunis melakukan kudeta. Kudeta ini berhasil melumpuhkan bandar udara, pusat komunikasi Marconi, dua jalan besar utama Dili dan stasiun udara. Semua komunikasi dengan dunia luar diputus. Para pemimpin FRETILIN banyak yang meninggalkan kota dan menyingkir ke gunung-gungung. Mereka menanti penyelesaian dari Portugal, namun juru damai tidak pernah muncul. Maka pada tanggal 15 Agustus 1975 Komite Sentral FRETILIN 

memutuskan menyerukan perlawanan senjata di seluruh wilayah nasional. Ketika perang saudara terjadi, para pemimpin dalam pemerintahan Portugis melarikan diri ke pulau Atauru. FRETILIN yang mendapat dukungan dari angkatan bersenjata bangsa Timor di Aileu dan Maubise, melakukan perlawanan pada UDT, juga menumpas anggota partai seperti APODETI yang dianggap antek Indonesia, serta partai KOTA dan Trabalista, partai yang baru berdiri. Perang saudara ini menyebabkan anggota partai berserta keluarganya mengungsi ke Indonesia dan melakukan dial-dial politik dengan pemerintah Indonesia. FRETILIN mengharapkan penyelesain perang saudara ini dilakukan oleh pemerintah Portugal, namun tidak ada reaksi dari negara Portugal. Maka FRETILIN 48mengambil alih dan membentuk pemerintahan sendiri. Pada tanggal 28 November 1975 Xavier do Amaral yang dipilih menjadi presiden Timor Lorosae membacakan proklamasi kemerdekaan. Pemerintahan FRETILIN yang baru seumur jagung menghadapi masalah sangat besar ketika Indonesia menyerbu Dili pada tanggal 7 Desember 1975 dengan menggunakan kekuatan penuh, baik kekuatan laut maupun udara (Hill 2000: 205). Didukung oleh Amerika yang saat itu melakukan perang dingin dengan Uni Soviet, Indonesia memasuki wilayah Timor Lorosae yang memiliki kedekatan dengan negara-negara Komunis seperti Uni Soviet dan RR 

China. Presiden Soeharto yang menggunakan kata integrasi untuk menyembunyikan keagresifannya dala memerangi Timor Lorosae, menjadikan wilayah ini menjadi Propinsi Indonesia yang ke 27. Para militan partai FRETILIN mengungsi ke hutan dan melakukan perlawanan dengan sistem grilya. Dukungan persenjataan dari 

Amerika dan penggunaan istilah integrasi oleh Indonesia membuat wilayah ini hampir terlupakan, sebab Soeharto menjadikan propinsi bungsu ini sebagai wilayah yang tertutup dari pers asing, sehingga perlawanan rakyat Timor Lorosae hampir tidak pernah terpantau. Bangsa- bangsa lain mulai memperhatikan perjuangan rakyat Timor Lorosae yang dipimpin oleh anggota tentara FALINTIL, sejak terjadi kasus Santa Cruz 12 November 1991. Pembantaian para pemuda yang tidak bersenjata di makam Santa Cruz, Dili yang dilakukan oknum tentara Indonesia dan menelan korban lebih dari 200 pemuda tersebut, menjadi tonggak dimulainya dukungan yang terus mengalir dari negara-negara lain. Sejak saat Xanana Gusmão, panglima perang pasukan FALINTIL mengubah perjuangan dengan cara damai, mulailah perundingan segitiga yang intensif antara 

Indonesia, Portugal yang mewakili Timor Timur, serta United Nations (PBB) sebagai pihak yang netral (http://etan.org/et99/april/3-10/8untalk.htm). Indonesia yang tengah dilanda krisis ekonomi yang berat merasa “sangat kelelahan” dengan perundingan segitiga yang berlangsung berkepanjangan tersebut. Maka akhirnya 

pemerintah Indonesia memberikan kesempatan bagi rakyat Timor Timur untuk 49melakukan referendum dengan dua opsi. Opsi pertama adalah menjadikan Timor Timur sebagai daerah otonomi luas dalam pemerintahanIndonesia. Opsi yang kedua, melepaskan diri dari Indonesia dan membentuk pemerintahan sendiri. Referendum yang diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 1999 ini dimenangkan oleh kubu pro 

kemerdekaan dengan perolehan suara 78,5%(http://www.democracynow.org/shows/).Dengan kemenangan inimenjadikan Timor Timur lepas dari Indonesia dan menjadi bangsa yang merdeka pada tanggal 20 Mei 2000. 

Di saat Timor Lorosae menjadi bagian dari wilayah Indonesia dan diberi nama Propinsi Timor Timur yang ke27, surat kabar Suara Timor Timur (STT) didirikan.Maka sistem pers yang akan dibicarakan di bawah ini juga menyangkut sistem pers Indonesia, sebab sistem pers di suatu daerah akan mengikuti sistem pemerintahan yang ada . 

A. Sistem PersSistem 

merupakan suatu kesatuan yang tersusun atas bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling bergantung serta berhubungan satu sama lainnya dan masing-masing komponen itu juga berdiri dan berfungsi sendiri namun saling berkaitan demi tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan (Rachmadi, 1990: 8). Pers merupakan bagian (subsistem) yang lebih besar, yaitu sistem komunikasi. Sistem komunikasi dapat dilihat sebagai bagian dari sistem yang lebih besar . Pada umumnya orang melihat sistem pers dikaitkan dengan bentuk sistem sosialnya dan selalu dihubungkan dengan sistem pemerintahan yang ada atau bentuk negara di mana sistem pers itu berada. 1. Sistem Pers Di Indonesia Di Indonesia sistem pers yang ada mengalami beberapa perubahan. Setiap zaman (pemerintahan) melahirkan sistem pers. Memang, pers lahir juga karena sistem pemerintahan.Zaman Soekarno: Soekarno mengetrapkan pemerintahan otoriter saat memerintah dari tahun 1945-1965). Maka pers yang ada pada saat pemerintahannya adalah Pers Otoritarian, dimana pers sungguh-sungguh diatur oleh pemerintah. Dalam negara yang menganut faham otoritarian maka semua organisasi ditujukan untuk mencapai tujuan negara yakni untuk memajukan rakyat. Demikian pula dalam sistem persnya, semua media massa diarahkan untuk mencapai tujuan negara, sehingga pemerintah menguasai 

secara langsung dan mengawasi semua media massa yang ada demi mencapai tujuan tersebut. Ketika Presiden Soekarno berkuasa, sebenarnya ada 2 tahap masa penting yang perlu diperhitungkan. Pertama adalah masa mempertahankan kemerdekaan. Pada tahun 1945 sampai 1949, Belanda masih bercokol di Indonesia dan 

menggunakan segala cara baik kekerasan fisik yang dikenal sebagai Agresi Militer I pada tahun 1947 dan Agresi Militer II pada tahun 1948-1949. Perlawanan yang dilakukan oleh segenap rakyat Indonesia dengan tentara Indonesia sebagai ujung tombaknya memerlukan dukungan yang tidak sedikit. Maka media massa yang ada 

pada saat itu didukung oleh tentara Indonesia, entah menjadi pelanggan surat kabar atau bantuan lain, bertujuan untuk mengobarkan semangat perang. Isi media massa pada saat itu sebagian besar berupa dukungan pada tentara yang berperang melawan sekutu yang datang atas undangan pemerintah Belanda. Kedua adalah tahap konsolidasi ke dalam, yakni tahap menggalang persatuan nasional setelah Belanda pergi dari tanah Indonesia. Pada zaman Soekarno berkuasa ini, terjadi pembreidelan terhadap media massa, dengan menggunakan aturan yang dipakai untuk itu adalah Persbreidel Ordonnantie warisan penjajah Belanda. Saat itu bisa terjadi penahanan terhadap redaktur surat kabar, seperti Indonesia Raya, yang selain dibereidel juga dipenjara redakturnya.Pemerintahan SoehartoSoeharto menggunakan istilah Pers Pancasila, yakni pers yang berdasarkan 

idiologi bangsa Indonesia yakni Pancasila sehingga disebut Pers Pancasila namun yang dilakukan sebenarnya adalah sama dengan Soekarno karena semua pers dibawah kendali pemerintah. Jadi yang terjadi adalah sistem pers otoritarian, karena segala-galanya diatur oleh pemerintah. Dengan menggunakan Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP) sebagai senjata ampuh untuk diberikan dan bisa dicabut, maka Pers Pancasila terwujud. Bila ada pers yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah, maka surat kabar atau majalah bisa dibreidel dengan cara mencabut SIUP-nya. Sebagai contoh pada tahun 1978, pemerintah membreidel 7 surat kabar ibukota. Tidak seperti pada zaman Belanda, yang memiliki kepastian waktu pembreidelan misalnya 8 hari atau satu bulan sesuai dengan tingkat “kesalahan”, dalam masa pemerintahan Indonesia di zaman Soeharto tidaklah demikian. Tidak ada kepastian berapa lama pembreidelan tersebut (Surjomihardjo, 2002:199).Pemerintahan B.J. Habibie: Habibie memulai tonggak baru dengan memperkenalkan demokrasi yang dianut negara-negara barat. Pada pemerintahannya yang hanya berlangsung sebentar yakni sekitar 1,5 tahun , ia membuka zaman baru dengan memberi kebebasan dalam banyak bidang, termasuk dalam bidang pers. 2. Sistem Pers di Timor Leste.Negara yang baru saja membentuk pemerintahan sendiri ini menganut pers bebas bila ditilik dari Undang-Undang Dasarnya. Pasal 40 UUD Timor Leste berbunyi: (Kebebasan Mengeluarkan Pendapat dan Kebebasan Informasi) Setiap orang memiliki hak atas kebebasan mengeluarkan pendapat serta hak untuk 

memberikan informasi serta untuk diberitahu informasi secara tidak memihak. Penggunaan hak kebebasan mengeluarkan pendapat dan kebebasan atas informasi tidak dapat dibatasi oleh jenis penyensoran apapun. Penggunaan hak dan kebebasan yang disebut dalam pasal ini akan diatur oleh undang-undang, berdasarkan kewajiban untuk menghormati UUD dan martabat manusia. 

Selain itu Pasal 41 berisi (Kebebasan Pers dan Media Massa) 

1. Kebebasan Pers dan media massa lainnya terjamin 

2. Kebebasan pers terdiri atas kebebasan mengeluarkan pendapat dan daya cipta 

para wartawan, akses pada sumber-sumber informasi, kebebasan editorial, perlindungan kemandirian dan kerahasiaan profesional, serta hak untuk menerbitkan surat kabar, terbitan-terbitan dan sarana penyiaran yang lain. 

3. Monopoli atas media massa adalah dilarang. 

4. Negara akan menjamin kebebasan, kemandirian media umum dari kekuasaan politik dan ekonomi. Negara akan menjamin adanya suatu dinas radio dan televisi umum yang tidak memihak, guna, antara lain melindungi dan menyebarluaskan budaya dan nilai tradisional Republik Demokratis Timor Leste serta menjamin kesempatan bagi pengungkapan pendapat yang berbeda-beda. Stasiun-stasiun radio dan televisi hanya bisa beroperasi dengan surat izin, sesuai dengan undang-undang (UUD Republik Demokrasi Timor Leste versi 

bahasa Indonesia, 2002: 24-25). Kehadiran Timor Leste sebagai negara baru pada 20 Mei 2000 dimana ide 

demokrasi saat itu telah menjadi daya hidup bangsa di negara-negara maju maupun berkembang, memberi inspirasi pada kebebasan mengemukakan pendapat di negara baru ini. Seperti yang dicantumkan dalam pasal 40 dan 41, kebebasan pers di Timor Leste dijamin dan diakui sebagai hak individu dan insan pers yang tidak bisa 

diganggu gugat baik oleh kekuasaan politik maupun kekuasaan ekonomi. Hal ini 53dimanfaatkan benar oleh pers di Timor Leste untuk dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat tanpa takut dibreidel. Sejak kemerdekaan sampai tahun 2009, belum ada satu penerbitan pun yang dibreidel, yang membuktikan sungguhsungguh dihormatinya kemerdekaan mengeluarkan pendapat. 

B. Surat Kabar Nasional di Timor Leste 

1. Suara Timor Lorosae 

Surat kabar Suara Timor Lorosae terbit pertama kali dengan nama Suara Timor Timur pada tahun 1 Februari 1993 oleh Salvador Ximenes ketika Timor Leste masih menjadi propinsi Indonesia yang ke-27 dan bernama Propinsi Timor Timur. Karena pada saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Republik Indonesia, maka 

Surat Kabar Suara Timor Timor ini juga tunduk pada kebijakan pemerintah Indonesia. Pada zaman pemerintahan Soeharto yang menganut sistem otoritarian maka Suara Timor Timur (STT) juga tunduk pada kebijakan Soeharto.Ketika Presiden Soeharto lengser digantikan oleh Habibie, STT 

memanfaatkan keterbukaan dengan menyajikan berita-berita yang selama beberapa tahun tidak pernah diberitakan. STT meliput pasukan Falintil dan memberitakan kekuatan Falintil yang selama zaman Soeharto terlalu dikecilkan keberadaannya. Ketika Habibie menawarkan opsi untuk merdeka atau otonomi, STT banyak 

memberitakan kekuatan pro kemerdekaan di samping memuat pula keberadaan pro otonomi. Keberimbangan pemberitaan ini bila dicemati dapat menjadi petunjuk kuat bagi pengamat politik untuk memprediksi masa depan Timor Timur dengan akurat.Setelah menjadi negara baru yakni negara Timor Leste, surat kabar Suara Timor Timur berubah nama menjadi Suara Timor Lorosae yang disingkat STL. Lorosae yang berarti matahari terbit atau daerah timur sebenarnya sama dengan Leste dalam bahasa Portugis yang berarti Timur. Penggunaan Lorosae menunjuk pada kosa kata asli Timor, sebuah tekad untuk menjadi koran nasionalis dari bangsa Timor 

Leste. Ketika terbit pertama kali, Suara Timor Lorosae menggunakan bahasa Tetum, Indonesia, Portugis dan Inggris. Bahasa Indonesia digunakan mengingat banyaknya rakyat Timor Leste yang menggunakan bahasa ini ketika belajar di sekolah-sekolah pada zaman pemerintahan Indonesia. Kaum elit yang berpendidikan tinggi juga terbanyak mengenyam bangku kuliah di perguruan tinggi Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia ini terus dilakukan Suara Timor Lorosae sampai saat ini, dengan pertimbangan segi bisnis, dimana Suara Timor Lorosae akan mengalami peningkatan penjualan bila berita-berita penting ditulis dalam bahasa Indonesia. Meskipun peningkatan tiras karena penggunaan bahasa Indonesia ini belum melalui penelitian 

ilmiah, staf redaksi Suara Timor Lorosae terus mempertahankan penggunaan bahasa Indonesia dalam menuliskan beritanya (Wawancara 7April 2008). 

2. Timor Post.Surat Kabar Timor Post terbit pertama kali setelah Timor Leste lepas dari Indonesia yakni pada tanggal 29 Februari 2000. Didirikan oleh 14 orang, surat kabar ini memiliki motto: “Hari Unidade, Justisa noDemokrasia” (mewujudkan persatuan, keadilan dan demokrasi). Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Tetum, di samping masih menggunakan bahasa Portugis, Indonesia dan Inggris. Bahasa Tetum digunakan para wartawan dalam menulis berita, sehingga berita di surat kabar Timor Post hampir semua berbahasa Tetum. Penulisan artikel atau opini juga banyak menggunakan bahasa Tetum, meski bahasa Indonesia juga tetap diperbolehkan. Surat kabar Timor Post memiliki prinsip untuk menulis pemberitaan yang netral atau tidak 

memihak. Timor Post terbit setiap hari kecuali hari minggu. Pertama terbit 8 halaman, kini surat kabar Timor Post terbit dengan 20 halaman hitam putih sebagai ciri khasnya. 

3. Kendala yang dihadapi 

Dalam melakukan tugas-tugas jurnalistik, para wartawan di Timor Leste menghadapi kendala yang tidak ringan. Kendala ini yang menyebabkan berita-berita dari distrik-ditrik yang jauh dari kota Dili tidak bisa dipublikasikan dengan cepat. Padahal ciri khas surat kabar adalah novelty atau kebaruan, sehingga berita-berita 55hard news yang disajikan seharusnya hadir di tangan pembaca tidak lebih dari 1 hari setelah kejadian. Selain kendala sarana dan prasarana, kendala yang bersifat teknis dalam penulisan juga ada dan mempengaruhi para wartawan dalam menyajikan berita. Kendala –kendala tersebut adalah: 

a. Panduan Bahasa 

Penggunaan bahasa Tetum sebagai bahasa nasional Timor Leste ditetapkan oleh Undang-Undang Dasar Timor Leste Pasal 13 ayat 2. Selain sebagai bahasa nasional, bahasa Tetum juga digunakan sebagai bahasa resmi di negara Timor Leste berdampingan dengan bahasa Portugis yang dijadikan bahasa resmi negara seperti 

yang tercantum dalam Pasal 13 ayat 1 (UUD RD Timor Leste 2002: 15). Dengan demikian bahasa Tetum juga digunakan sebagai bahasa persatuan mengingat ada begitu banyak bahasa yang digunakan suku-suku di seluruh wilayah Timor Leste. Di wilayah sebelah timur, ada kurang lebih 31 bahasa daerah yang digunakan, sementara 

di wilayah sebelah barat ada sekitar 5 bahasa daerah (Hill, 2000:1). Dengan banyaknya bahasa daerah, bahasa Tetum akan menjadi bahasa yang menjembatani kesukaran berkomunikasi yang disebabkan bahasa daerah ini. Maka bahasa Tetum juga menjadi sangat penting untuk mewujudkan persatuan yang kokoh di Timor 

Leste. Meski begitu belum ada panduan yang diterbitkan oleh lembaga bahasa, yang dikerjakan oleh para ahli bahasa Tetum, sehingga para wartawan atau penulis lepas tidak memilik panduan baku dalam penulisan ejaan atau kosa kata bahasa Tetum. Bahasa Tetum di Timor Leste sangat terbuka dalam mengadopsi bahasa lain, 

terutama bahasa Portugis. Maka tidak mengherankan bila banyak kosakata yang ada di dalam berita di surat kabar berasal dari bahasa Portugis. Mengingat banyaknya acento (tanda baca di dalam huruf) yang digunakan dalam kosa kata bahasa Portugis semakin diperlukan panduan yang benar agar penulisan ke dalam bahasa Tetumjuga benar. Selain itu diperlukan pula buku panduan yang menuntun para pengguna bahasa Tetum untuk mengambil atau mengadopsi bahasa Portugis ke dalam bahasa Tetum. Sebaiknya hanya kosa kata yang tidak terdapat dalam bahasa Tetum saja yang 56mengadopsi bahasa Portugis, sehingga tidak semua kosa kata berasal dari bahasa 

Portugis. Sebagai perbandingan wartawan Indonesia dapat mengecek ejaan dalam kosa kata Indonesia dari Ejaan Yang disempurnakan yang diterbitkan oleh Lembaga Bahasa Indonesia. Disampung Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), ada pula panduan gramatika, seperti yang ditulis oleh Goris Keraaf yang dapat menuntun dalam hal tata bahasa Indonesia. Khusus bagi wartawan, selain pedoman yang telah baku tersebut, 

masih bisa ditambah lagi dengan adanya “Sepuluh Pedoman Pemakaian Bahasa 

Dalam Pers” (Kusumaningrat, 2005:168). 

b. Lembaga Pelatihan 

Agar dapat menulis dengan baik, seseorang yang akan menjadi wartawan haruslah melewati jenjang pendidikan yang memadai. Selain pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi, lembaga pelatihan jurnalistik pun harus dilakukan secara teratur guna meningkatkan kemampuan dalam bidang tulisan. Di beberapa daerah 

Indonesia, sudah banyak berdiri lembaga pelatihan jurnalistik untuk melatih individu yang ingin lebih dapat mengembangkan kemampuannya dalam hal menulis, yang dilakukan selama 6 bulan atau setahun. Di Timor Leste keberadaan lembaga seperti ini belum ada, maka untuk meningkatkan kemampuan, wartawan akan dikirim ke Jakarta, Indonesia untuk melakukan pelatihan. Namun bila kita cermati, pengiriman yang berbiaya sangat mahal karena harus ke luar negeri ini sebenarnya tidak terlalu efektif. Mereka akan menggunakan bahsa Indonesia saat pelatihan, padahal di Timor Leste mereka akan menulis mayoritas berita dengan menggunakan bahasa Tetum. Seandainya lembaga seperti ini ada di Timor Leste sungguh tepat. Wartawan akan 

dapat terus meningkatkan kemampuan menulis baik berita maupun features dengan menggunakan bahasa Tetum. 

c. Internet 

Jaringan internet yang sudah merupakan kebutuhan penting bagi penunjang kehidupan manusia, menjadi sangat penting juga bagi media massa di manapun media massa ini berada. Baik surat kabar Suara Timor Lorosae dan Timor Post sudah memanfaatkan jaringan internet dalam melakukan aktivitas sehari-hari, namun jaringan internet belum tersebar merata di semua distrik. Hal ini membuat insan media massa termasuk insan surat kabar di Timor Leste tidak bisa bekerja maksimal. Laporan dari distrik Lospalos, misalnya, tidak langsung bisa dikirim via e-mail karena tidak adanya jaringan internet di distrik tersebut. Hal ini membuat wartawan harus kembali ke kantornya di Dili untuk bisa menyampaikan berita ke redaksi surat kabarnya. Dengan jauhnya jarak yang harus ditempuh sang wartawan, berita pun tidak bisa terbit secepat bila bisa dikirim via internet.Maka tidakmengherankan bila berita dari distrik yang bersifat hard news pun menjadi terlambat terbitnya (Wawancara, 7 April 2008).d. Prasarana JalanKondisi jalan di Timor Leste sangat beragam. Di sebagain wilayah Dili, sebagai ibukota Negara Timor Leste, jalan umumnya sudah beraspal dan dalam kondisi normal. Namun di distrik-distrik, terutama yang jaraknya ratusan kilometer dari Dili, keadaan jalan sangat memprihatinkan. Maka tidak mengherankan kalau para wartawan banyak yang tidak bisa meliput peristiwa penting seperti kampanye di distrik yang bermedan berat tersebut. Hal ini sangat disayangkan mengingat kehidupan di distrik juga harus mendapat tempat untuk diberitakan di media massa. Sebagai surat kabar nasional, maka peristiwa dari distrik yang bersekala nasional juga akan diberitakan. Namun bila kondisi jalan sangat parah, tidak mungkin para wartawan dapat mengakses berita tersebut. Khusus untuk distrik Oecusse dimana prasarana yang digunakan adalah kapal laut yang beroperasi pada hari Senin dan Kamis dari Dili, dan Selasa serta Jumat dari Oecusse ke Dili lebih memprihatinkan lagi. Pemberitaan menjadi sangat lambat karena harus mengkikuti jadwal kapal laut. REFERENCEHill, Helen Mary. (2000). Gerakan Pembebasan Timor Lorosae, Dili: Yayasan Hak & Sahe Institute for Liberation.Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. (2005). Jurnalistik Teori dan Praktik, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rachmadi, F. (1990). Perbandingan Sistem Pers, Analisis Deskriftif Sistem Pers di Berbagai Negara, Jakarta: PT Gramedia. Surjomihardjo, Abdurrachman& Hilman Adil dkk. (2002). Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 

Undang-Undang Dasar Republik Demokrasi Timor Leste versi Bahasa Indonesia 

(2002). Dili: Majelis Konstutuante Timor Leste. 

http://www.democracynow.org/shows/1999/9/6 diakses tgl. 7 Juni 2008 

http://www.etan-org/et99/april/3-10/8untalk.htm diakses tgl. 8 April 2009 

Kompas, 10 Mei 2007, 07 Juli 2007 

Suara Timor Lorosae, 10 April 2007 

CATATAN: 

Tulisan ini merupakan salah satu bagian dari Thesis saya, yakni BAB III.

0 komentar:

Poskan Komentar